Pemko Sibolga Dorong Penguatan Akses Digital dalam Pemulihan Pendidikan Pascabencana

Dinas Kominfo Kota Sibolga | SIBOLGA — Pemerintah Kota (Pemko) Sibolga melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Sibolga menghadiri Focus Group Discussion (FGD) bertema Peran Akses Digital terhadap Pemulihan Pendidikan Pascabencana, yang berlangsung di MAS Darur Rachmad Kota Sibolga, Jalan Aso-Aso Nomor 17 A, Kelurahan Pancuran Kerambil, Kecamatan Sibolga Sambas, pada Selasa (15/09/2026) siang. Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Kominfo Kota Sibolga, Budi Mulia Darma, S.Sos., M.M., didampingi Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) pada Dinas Kominfo Kota Sibolga, Zul Ikhwan Hutabarat, S.Sos.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) bekerja sama dengan Institut Bisnis Indonesia Kosgoro 1957 tersebut bertujuan menghimpun masukan dan rekomendasi berbasis data untuk mendukung percepatan pemulihan kegiatan belajar-mengajar di wilayah yang terdampak bencana.

Dalam paparannya, Kepala Dinas Kominfo Kota Sibolga, Budi Mulia Darma, S.Sos., M.M., menyampaikan refleksi atas bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Kota Sibolga pada 26 November 2025. Bencana tersebut berdampak terhadap berbagai fasilitas pendidikan serta kondisi psikologis peserta didik dan tenaga pendidik.

Pada masa tanggap darurat, salah satu tantangan yang dihadapi adalah terganggunya jaringan listrik dan konektivitas telekomunikasi. Kondisi tersebut menyebabkan akses komunikasi dengan dunia luar menjadi terbatas dan sempat mengandalkan perangkat konektivitas berbasis satelit, termasuk Starlink, dengan ketersediaan serta jangkauan yang terbatas.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Dinas Kominfo Kota Sibolga menekankan sejumlah hal strategis yang perlu menjadi perhatian dalam mendukung keberlanjutan pendidikan saat terjadi bencana.
Pertama, keberlanjutan pembelajaran, dengan menyiapkan skema pembelajaran alternatif di lingkungan sekitar maupun lokasi pengungsian ketika fasilitas sekolah belum dapat digunakan.
Kedua, perbaikan data dan pendataan terpadu, melalui penerapan standar pendataan yang selaras antara sekolah, kelurahan, dan kecamatan. Hal ini penting untuk mempercepat pemetaan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, serta penyaluran bantuan secara tepat sasaran.
Ketiga, penguatan koordinasi lintas sektor, melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah daerah, satuan pendidikan, serta penyedia layanan telekomunikasi dalam menghadapi kondisi darurat.
Keempat, kesiapan konektivitas dan kelistrikan darurat, dengan mempertimbangkan penyediaan titik akses internet publik yang didukung sumber listrik cadangan, seperti genset maupun panel surya. Ketersediaan energi menjadi bagian penting dalam memastikan akses digital tetap dapat dimanfaatkan pada situasi darurat.
Kelima, kesiapan anggaran dan sumber daya manusia, khususnya penguatan kapasitas guru dalam memanfaatkan teknologi. Hal ini diperlukan agar pembelajaran jarak jauh maupun pembelajaran berbasis digital dapat tetap dilaksanakan secara efektif ketika kegiatan belajar di sekolah mengalami gangguan.

Melalui FGD tersebut, Pemerintah Kota Sibolga berharap dapat mendorong terbentuknya sistem pemetaan data yang terintegrasi dan dapat diperbarui secara berkala. Sistem tersebut diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dan penanganan dampak bencana pada sektor pendidikan secara lebih terencana, cepat, dan terkoordinasi.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif dan sesi tanya jawab bersama para kepala sekolah dan guru dari jenjang SMP/MTs serta SMA/SMK/MA, baik negeri maupun swasta, se-Kota Sibolga. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama Kegiatan ini dihadiri oleh Peneliti dari IBI Kosgoro, Jiki Syafril Ujung serta Harryanto Suhardjo.


