KERUSAKAN TERUMBU KARANG SIBOLGA MEMPRIHATINKAN

SIBOLGA – Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan, Hendra Darmalius, memaparkan bahwa saat ini kerusakan terumbu karang di perairan Kota Sibolga telah mencapai 80 %. Hal itu terungkap dalam eksposnya di Rapat Kerja Pemerintahan (Rakerpem) Juni 2015, hari ini, Senin (8/6).

Rakerpem yang berlangsung di Aula Kantor Wali Kota ini dibuka oleh Wakil Wali Kota Sibolga Marudut Situmorang, untuk selanjutnya dipimpin oleh Sekda M. Sugeng. Ada tiga SKPD yang memaparkan ekspos perkembangan dinas yang mereka pimpin, yaitu Dinas Kelautan Perikanan Peternakan (DKPP), Dinas LHKP dan Satpol PP.

Tentang kerusakan terumbu karang Sibolga yang sangat parah tersebut, dijelaskan bahwa hal itu akibat perilaku nelayan-nelayan yang dari dulu terbiasa memakai bom ikan. Meski sudah lama mengetahui bahwa pemakaian bom ikan adalah terlarang, mereka cukup leluasa mempergunakan karena keterbatasan kemampuan pemerintah untuk mengawasi aktivitas penangkapan ikan di laut. Selain penggunaan bom ikan, kerusakan terumbu karang juga disebabkan oleh aktivitas pukat trawl. Kerusakan terumbu karang ini menyebabkan ikan menjadi sangat langka di perairan Sibolga. Hal ini merugikan nelayan sendiri, dimana kelangsungan usaha mereka menjadi terancam.

Untuk memperbaiki kerusakan terumbu karang tersebut, Pemko Sibolga melalui Dinas KPP telah dua (2) tahun terakhir ini melakukan transplantasi terumbu karang di beberapa titik dan terus me-monitoring untuk mengawasi kelangsungan hidupnya. Sekarang, terumbu-terumbu karang hasil transplantasi tersebut sudah bertumbuh dan mulai didatangi ikan-ikan.

Selain kerusakan terumbu karang perairan Sibolga, Hendra Darmalius juga melaporkan praktek penambangan pasir ilegal oleh para nelayan dari pulau-pulau seperti Poncan Gadang dan Poncan Ketek. Pasir-pasir yang dimuat ke dalam karung-karung itu dipakai oleh mereka sebagai pemberat pemancangan tiang-tiang bagan pancang. Pengambilan pasir itu tergolong banyak dan tak henti, sehingga jika tidak segera diambil tindakan, bisa saja terjadi kerusakan lingkungan dan abrasi atas pulau-pulau itu dalam beberapa tahun saja.

Terungkap juga dalam rapat itu oleh Kadis Budparpora, bahwa belakangan ini pulau Poncan Ketek juga telah dirusak oleh praktek penambangan para pencari batu akik. Konon, para penambang itu tidak hanya berhasil menemukan batu akik, tapi juga menemukan guci-guci yang diduga berasal dari zaman Dinasti Ming atau sekitar abad 17 M. Sebagaimana diketahui, Poncan Ketek memang pusat pangkalan pemerintahan dan dagang pada masa penjajahan Inggris dan Belanda di Sibolga. “Jika temuan guci-guci itu benar, bisa saja ada benda-benda bersejarah lainnya di Poncan Ketek,” duga Tarmizi.

Menanggapi hal itu, Sekda M. Sugeng meminta agar Dinas KPP tetap fokus menanggulangi upaya penyelamatan terumbu karang dan pasir pulau-pulau tersebut, serta mengupayakan penutupan Poncan Ketek dari para penambang, dengan meningkatkan kerja sama dengan TNI AL dan pihak terkait lainnya. (gan)

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *