Kamis, 22 Februari 2018
Blue Red Green

REDENOMINASI RUPIAH

REDENOMINASI RUPIAH

Oleh : Ricky Nelson Sihite

Redenominasi mata uang telah dilaksanakan sejak 90 tahun lalu tepatnya pada tahun 1923 yang dilakukan oleh Jerman, dimana pada saat itu Jerman mengalami inflasi yang sangat tinggi (hyperinflation). Sampai saat ini negara di dunia yang sudah melakukan redenominasi terhadap mata uangnya sudah lebih dari 85 negara. Sedangkan di Indonesia wacana redenominasi ini muncul pertama sekali pada tahun 2010 yang disampaikan Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution untuk menghilangkan tiga angka nol di belakang rupiah dengan alasan demi menyederhanakan perhitungan, karena pecahan rupiah sudah sangat besar, hingga Rp. 100.000,- yang merupakan pecahan terbesar di dunia saat ini setelah Vietnam, 500.000 Dong.

Redenominasi adalah penyederhanaan penulisan nominal mata uang menjadi lebih sederhana yang dilakukan dalam kondisi ekonomi yang stabil dan menuju kearah yang lebih sehat. Penerapan redenominasi di Indonesia berbeda pada saat Jerman, Argentina, Brazil dan Israel yang menghilangkan beberapa angka nol di masing-masing mata uang negara tersebut karena inflasi yang sangat tinggi. Indonesia menerapkan redenominasi pada saat kondisi ekonomi yang stabil, dimana tingkat inflasi, laju pertumbuhan ekonomi, PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 menunjukkan tren yang baik.

 

Redenominasi di Indonesia adalah penyederhanaan mata uang, dalam artian pecahan rupiah akan disederhanakan dengan menghilangkan tiga angka nol, misalnya yang senilai Rp. 100.000,- setelah redenominasi akan menjadi Rp. 100,- uang senilai Rp. 1.000,- menjadi Rp. 1,- Yang perlu dicatat adalah meski angka nominalnya berbeda, tetapi nilai uangnya tetap sama. Sebagai contoh bila anda membeli sebuah handphone saat ini dengan harga Rp. 1.000.000,- dengan menggunakan mata uang sebelum redenominasi, anda dapat membayarnya dengan menggunakan mata uang setelah redenominasi senilai Rp. 1.000,- .

 

Hal ini berarti secara umum, redenominasi mata uang tidak mempunyai akibat langsung terhadap perekonomian, karena nilai mata uang tersebut tetap dan nilai jual akan tetap sama, tidak ada akibat yang timbul dalam perekonomian dalam skala mikro dan makro, permintaan dan penawaran terhadap barang dan jasa tidak akan berubah, investasi, pengeluaran pemerintah, neraca pembayaran dan nilai ekspor tidak akan mengalami perubahan kecuali hanya tampilan di atas kertas saja. Tidak ada dampak yang timbul terhadap perekonomian kecuali dampak psikologis di masyarakat terhadap tingkat pengeluaran rumah tangganya yang mungkin berubah.

Redenominasi rupiah akan membuat rupiah menjadi lebih efisien dengan menghilangkan beberapa angka nol, mempermudah transaksi bisnis karena redenominasi membuat satuan mata uang yang lebih kecil, membuat mata uang lebih cepat bergerak dan pengurangan resiko akibat masyarakat membawa uang dalam jumlah yang besar, seperti dirampok, mengurangi fenomena ilusi uang yang akan dialami masyarakat ketika uang tersebut masih banyak menggunakan angka nol, memperbesar kepercayaan terhadap rupiah, dan terkadang cenderung dapat menurunkan tekanan inflasi di dalam perekonomian dengan catatan penyebab utama atau hyperinflation dan rendahnya nilai tukar rupiah dapat diselesaikan sebelum redenominasi diterapkan dan jika prosesnya dikelola dengan baik, selain itu juga dapat menyederhanakan dalam proses pencatatan keuangan atau sistem akuntansi karena transaksi keuangan setiap hari mencapai milyaran bahkan triliunan. Bila tiga nol dihilangkan dari mata uang rupiah, efisiensi kerja bisa terjadi.

Dengan berbagai keuntungan yang ada dengan penerapan redenominasi, tentu ada biaya dan resiko yang harus dihadapi, antara lain efek dari pembulatan harga ( harga yang Rp. 170,- akan menjadi Rp. 2,-), tampilan dan biaya administrasi dalam transaksi bisnis, seperti mengganti label harga, mengubah peraturan dan undang-undang, biaya cetak uang, giro serta cek dan menciptakan uang koin yang lebih banyak, memusnahkan giro, cek serta uang yang lama, biaya sosialisasi kepada publik dan periklanan khususnya kepada masyarakat yang berada di daerah yang sulit atau sedikit ditemukan adanya saluran informasi yang memadai, seperti media cetak dan elektronik yang semakin diperparah dengan tingkat pendidikan masyarakatnya yang masih rendah, mengubah program/software laporan keuangan dan efek psikologis yang ditimbulkan karena pendapatan yang seolah-olah menurun.

 

Yang terpenting adalah menekan efek psikologis yang terjadi di masyarakat, karena jika masyarakat tidak paham akan arti sebenarnya dari redenominasi ini justru akan memperburuk perekonomian karena inflasi akan tinggi seperti yang terjadi di Rusia, dimana sebelum redenominasi tingkat inflasi sebesar 16,6%; selama masa redenominasi meningkat menjadi 27,6% dan semakin tinggi setelah redenominasi menjadi 85,7%.

Penghapusan tiga nol membuat masyarakat merasa nilai uang lebih kecil, karena selama ini terbiasa membawa uang pecahan besar sampai ratusan ribu, dan juga bila para pelaku usaha dalam menetapkan harga produknya dibulatkan ke atas dengan alasan agar lebih memudahkan hitungan, efeknya bisa berujung pada inflasi. Bila 1 botol minuman mineral harganya Rp. 1.750,- setelah redenominasi pelaku usaha membulatkan harganya menjadi Rp. 2,- dengan alasan untuk menggampangkan transaksi keuangan. Sebenarnya dengan keadaan ini, harga 1 botol minuman mineral tersebut sudah naik menjadi Rp. 2.000,-. Itu berarti terjadi inflasi.

Untuk itu Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan menyiapkan periode transisi selama enam tahun. Jangka waktu itu dirasa pas untuk menghapus nol dari Rupiah untuk menghindarkan dampak-dampak buruk yang mungkin muncul tadi. Masyarakat mempunyai waktu yang cukup untuk memahami esensi dari redenominasi tersebut, pihak pengusaha dan perbankan juga punya waktu untuk menyesuaikan teknis dan IT-nya, Dari sisi ekonomi, redenominasi memberikan manfaat efisiensi dan kepraktisan serta gengsi dibandingkan mata uang dunia yang lain, jadi para pengusaha ataupun masyarakat tidak perlu lagi menyimpan mata uang dollar Amerika yang cukup banyak dengan alasan untuk berjaga-jaga ataupun melakukan transaksi luar negeri. Efek ini akan mempengaruhi permintaan dan penyediaan rupiah, sehingga nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain akan semakin menguat.

Berikut tahapan pelaksanaan redenominasi rupiah dari rencana pembahasan antara Bank Indonesia dengan pemerintah sampai dengan pelaksanaan di tahun 2020 :

  1. 1.Tahun 2011-2012, Bank Indonesia mulai melakukan pembahasan dengan pemerintah perihal rencana redenominasi yang menghasilkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjuk Wakil Presidensebagai Ketua Tim Koordinasi Redenominasi. Pada periode ini sudah bisa disebut sebagai masa sosialisasi. BI juga menyiapkan berbagai macam hal seperti menyangkut akuntansi, pencatatan, sistem informasi.  Tahapan penyusunan  rancangan undang-undang (RUU), rencana percetakan uang dan distribusinya juga sudah mulai berlangsung.
  2. 2.Tahun 2013-2015, merupakan masa transisi. Kementerian Keuangan bersama Bank Indonesia pada 23 Januari 2013, resmi menggelar serangkaian sosialisasi rencana redenominasi. Tujuannya untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa redominasi bukanlah pemangkasan nilai mata uang (sanering) tapi penyederhanaan dengan menghilangkan beberapa nol. (Sanering adalah pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai uang yang dilakukan dalam kondisi perekonomian yang tidak sehat, dimana yang dipotong hanya nilai uangnya, sedangkan harga barang tetap tinggi).

Pada masa ini akan ada dua jenis mata uang, yakni pecahan lama dan pecahan baru pasca redenominasi. Hal ini bertujuan membiasakan masyarakat dalam penggunaan mata uang baru nantinya baik dalam pembayaran maupun pengembalian transaksi.

Sebagai contoh, harga produk senilai Rp 10.000 akan ditulis dalam dua harga yaitu Rp 10.000 (rupiah lama) dan Rp 10 (rupiah  baru). BI juga akan perlahan-lahan mengganti uang rusak rupiah lama dengan uang rupiah baru.

  1. 3.Tahun 2016-2018, pemerintah menargetkan uang saat in (rupiah lama) akan benar-benar tak beredar lagi. BImelakukan penarikan uang lama secara perlahan pada masa  transisi.
  2. 4.Tahun 2019–2020, pelaksanaan redenominasi mulai terjadi. Tahapan ini disebut phasing out, yakni saat dilakukan pengembalian mata uang rupiah dengan kata baru menjadi rupiah. BI akan menyebarkan penggunaan mata uang baru sebagai penggantilama.

 

Harapan kita semua tentunya redenominasi ini dapat berjalan lancar dan didukung oleh semua pihak sehingga manfaatnya akan semakin besar kita peroleh dengan catatan program redenominasi tersosialisasi secara baik dan pelaksanaannya harus benar dan sesuai kepatutan.

Comments   

 
0 #4 LiaRige 2018-02-13 09:58
Buy Vardenafil Uk Online Cytotec Et Pose De Implant cheap cialis Preise Viagra Bestellen Order Synthetic Viagra Zentel Without Dr Approval
Quote
 
 
0 #3 LiaRige 2018-01-30 11:41
Priligy And Viagra Pflanzliches Viagra Horn cialis Online Kamagra
Quote
 
 
0 #2 jabiner 2015-08-19 20:49
inflasi itu sanering perlahan, artinya penurunan nilai uang atau penurunan daya beli 15 % pertahun ditingkat rumah tangga.
ini sudah berapa puluh tahun negara kita mengalami inflasi yang terakkumulasi, sehingga nilai nominal uangnya besar tingkat harga naik dengan persentasi yang lebih besar dari inflasi itu.
Quote
 
 
+1 #1 Anto 2013-08-03 12:44
Mantap
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

 

Sibolga TV

Please enter youtube id.

  Buku Tamu

  Statistik Pengunjung

2978718
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
4288
4656
22758
105623
120225
2978718

Your IP: 54.226.55.151
Server Time: 2018-02-22 23:50:15

  Link

WEBMAIL PEMKO SIBOLGA

lpse

lhkp

sapa kemendagri   

logo ppid web

 

LOGO DINAS PERIZINAN KOTA SIBOLGA

bps