Situs Resmi Pemerintah Kota Sibolga

‘Sehat Dulu Yuk’ Bukan ‘Sebat Dulu Yuk’

Oleh :

 Muthia Muchsin Siregar

Mengonsumsi rokok sudah menjadi tren di kalangan milennial. Bahkan diantara mereka banyak yang berkenalan dengan rokok sejak usia dini. Istilah ‘sebat’ yang merupakan akronim dari kata sebatang, dan dimaksudkan pada sebatang rokok, serta tidak diketahui dengan pasti siapa pencetus istilah ini, melekat dengan keseharian para perokok milenial. Istilah ini pun kerap digunakan sebagai pembuka percakapan sesama perokok milenial, jelang percakapan yang lebih intens.

Menurut Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, tercatat jumlah perokok berusia diatas 15 tahun di Indonesia sebanyak 33,8 %. Dari jumlah tersebut, 62,9 % merupakan perokok laki-laki dan 4,8% perokok permpuan. Hasil dari wawancara penulis kepada 100 responden perokok aktif berusia 17-25 tahun, sebanyak 90 diantaranya mengaku bahwa pergaulan merupakan faktor utama yang menyebabkan mereka mencoba untuk merokok. Muhammad Haichal Muzakkir (20, Mahasiswa) mengatakan, “Awalnya cuma ikutan aja, karena circle pergaulan merokok semua. Tapi lama-lama merokok jadi kebiasaan. Ada niat buat berhenti, tapi susah, karena lingkungan tidak men-support.”

Kemudahan untuk mendapatkan rokok di Indonesia juga menjadi faktor pendukung tingginya angka perokok usia muda di Indonesia. Menurut Peraturan Pemerintah tentang Tembakau tahun 2012 BAB IV pasal 47, bahwa anak di bawah usia 18 tahun tidak boleh membeli, dibelikan, dan/atau diberikan rokok. Juga tidak boleh dilibatkan pada kegiatan yang disponsori produk tembakau. Namun dalam pelaksanaannya, masih banyak masyarakat yang seakan tutup mata dengan hal ini. Mayoritas pedagang hampir tidak pernah menanyakan usia dari pembeli rokok. Reza Andrean Tamebaha (16, Pelajar) ketika diwawancarai berkata, “Saya pertama kali mencoba merokok ketika SMP dan membelinya di warung di dekat sekolah.” Fakta ini merupakan contoh kecil kurangnya kesadaran masyarakat dalam mendukung peraturan pemerintah tentang tembakau diatas.

Ketika ditanya mengenai dampak negatif dari merokok, mayoritas responden dapat menjawab dengan benar. Sangat disayangkan, bahwa mereka paham dampak negatinya merugikan diri sendiri, namun tetap melakukannya. “Karena sudah menjadi gaya hidup, saya sulit lepas dari rokok. Tidak jarang pula saya mendapatkan ajakan berupa ‘sebat dulu lah’ sebelum ingin pulang, yang sangat sulit untuk saya tolak. Dikarenakan sudah menjadi kebiasaan, saya pun kerap melontarkan ajakan yang sama kepada teman yang lain,” tutur Rizky S (21, Mahasiswa) ketika ditanyakan alasannya  kenapa sulit berhenti merokok.

Banyak anak muda yang mulanya merokok agar terlihat keren dan untuk tujuan dapat masuk ke dalam pergaulan tertentu. Meski sesungguhnya tidak ada paksaan dari pihak manapun, melainkan keinginan dari dalam diri sendiri agar terlihat sama seperti yang lain. Suatu proses dalam pencarian jadi diri, namun sangat disesalkan akhirnya menjadi sebuah candu. Pernyataan tersebut didukung oleh teori Amstrong (1995), yang menyebutkan bahwa merokok sebagai “penopang” dalam bermasyarakat. Dalam suatu kesempatan, Ustadz kondang Aa Gym pernah berkisah bahwa dirinya pernah disebut banci oleh teman-teman sepergaulannya karena tidak merokok.

Fakta tersebut memunculkan pertanyaan, mengapa harus mengikuti trend yang memiliki dampak buruk bagi diri sendiri, padahal mampu menciptakan trend baru yang positif, yang dapat dimulai dari diri sendiri. Tidak perlu mengkambing hitam-kan pergaulan dan lingkungan, karena setiap keputusan yang diambil 90% atas kesadaran sendiri. Maka untuk berhenti merokok pun dibutuhkan kesadaran dan komitmen diri sendiri pula. Juan Axel Maruli (19, Mahasiswa) berpendapat, “Stigma jika merokok itu keren harus dihilangkan untuk mengurangi jumlah perokok usia muda.” Mengapa stigma itu dapat terbentuk? Ada banyak faktor, (1) Melihat orang tua, banyak anak yang menjadikan orang tuanya sebagai panutan sehingga mereka memiliki motivasi untuk menyerupai orang tuanya. (2) Media, kerap kali tokoh utama dari sebuah film digambarkan sebagai orang yang populer dan merokok. (3) Public figure, banyak public figure yang merokok dan merupakan idola dari para remaja, sebut saja seperti pemain band ataupun penyanyi yang dijadikan sebagai role model para millenial yang masih mencari jati diri. Maka dari itu, untuk mengurangi tingginya angka perokok usia muda di Indonesia, dibutuhkan kerja sama dari semua pihak. Diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan pemerintah harus bekerja sama dalam menanggulangi hal ini.

Jika ‘sebat’ telah berhasil menjadi lifestyle milenial selama beberapa tahun belakangan ini, mengapa gaya hidup ‘sehat’ yang sudah lebih lama dikampanyekan belum bisa menjadi trend bagi  milenial? Sebagai millenial yang merupakan harapan bangsa, mari bangun gerakan mengganti tren “sebat dulu yuk” menjadi “sehat dulu yuk”.