Situs Resmi Pemerintah Kota Sibolga

WALI KOTA KUKUHKAN KELAS UNGGULAN SMP DAN SMA TA. 2015/2016

SIBOLGA – Hari ini, Selasa 28 Juli 2015, bertempat di halaman SMA N 1 Sibolga dilaksanakan pengukuhan siswa SMP kelas VII dan SMA kelas X unggulan Kota Sibolga. Pengukuhan siswa kelas unggulan ditandai dengan pemasangan baret kepada perwakilan siswa SMP dan SMA unggulan oleh Wali Kota Sibolga Drs. HM Syarfi Hutauruk. Acara pengukuhan ini turut dihadiri para orangtua murid, para guru-guru pengajar, Muspida, Asisten, dan kepala SKPD.

Tahun Ajaran (TA) 2015/2016 siswa kelas SMP unggulan berjumlah 60 orang yang merupakan hasil seleksi yang diikuti sebanyak 338 peserta. Siswa kelas unggulan SMP tersebar di tiga (3) SMP yaitu SMP Negeri 1, SMP Negeri 2 dan SMP Negeri 3 Sibolga dengan masing-masing 20 siswa. Untuk kelas unggulan SMA peserta seleksi sebanyak 439 orang yang kemudian diterima adalah 80 orang. Untuk kelas unggulan SMA juga dibagi ke tiga (3) SMA Negeri yaitu SMA Negeri 1 sebanyak 40 siswa, SMA Negeri 2 sebanyak 20 siswa dan SMA Negeri 3 sebanyak 20 siswa. Diharapkan dengan dibaginya kelas unggulan di 6 sekolah tersebut maka akan tercipta persaingan yang sehat untuk lebih maningkatkan SDM yang dapat bersaing menghadapi perkembangan yang semakin pesat, kata Kepala Dinas pendidikan Sibolga Alpian Hutauruk dalam laporannya.

Wali Kota dalam sambutannya mengatakan, pembukaan kelas unggulan merupakan upaya sadar untuk memberikan pendidikan yang baik dan berkualitas di bidang akademik. Kelas unggulan dilengkapai fasilitas yang diberikan pemerintah sehingga tugas para siswa hanya belajar dengan sungguh-sungguh. 

“Kiranya para siswa ini kelak menjadi generasi muda yang mempunyai kompetensi  mumpuni, bersaing dan menjadi pionir-pionir pembangunan bangsa dan negara,” katanya.

Dan harapnya, para orangtua siswa dapat memberi perhatian lebih kepada anak-anak ini dengan tetap mengawasinya di rumah  sehingga disiplin yang diterapkan di sekolah  diterapkan juga di rumah untuk menjadi pembinaan yang berkelanjutan.

Ia mengaku memahami permasalahan yang membuat sumber daya manusia di daerah rendah yaitu kemiskinan karena tidak memiliki biaya untuk mendapat pendidikan yang tinggi dan baik. “Saya juga berasal dari keluarga miskin. Bapak saya hanya seorang nelayan tapi saya belajar dengan serius dengan tetap kerja keras sampai bisa seperti sekarang ini,” ucapnya seraya memotivasi para siswa.    (Hen)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

S

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *