Situs Resmi Pemerintah Kota Sibolga

ADIPURA BUKAN PENGHARGAAN BIASA

ADIPURA BUKAN PENGHARGAAN BIASA

Oleh : Marganda Hutabarat

Tahun 2013 ini, untuk kesembilan kalinya, dan secara berturut-turut ketujuh kalinya, Kota Sibolga diganjar penghargaan Adipura. Laskar Kuning menjadi suatu kekuatan yang terdengar sangat mulia dan dihargai di kota ini, sebab oleh tangan-tangan merekalah kota ini selama bertahun-tahun bersih dari segala sampah. Mungkin suatu saat di kota ini orang akan terpikir membangun satu monumen berupa Tugu Laskar Kuning untuk mengenang kepahlawanan mereka. Siapa tahu. Ini bukanlah laskar yang maju ke medan perang dengan wajah-wajah beringas, melainkan sebarisan perempuan sederhana berwajah ramah dengan senjata sapu lidi dan perlengkapan lainnya.

Sibolga sepatutnya bersyukur bahwa kepemimpinan yang sekarang, yang dikomandani Syarfi Hutauruk tidak mengendurkan kesungguhan menata kebersihan kota ini. Sejak dilantik sebagai walikota, setiap tahun ia tetap menjemput penghargaan itu dari Jakarta untuk kebanggaan warga kota ini.

Di luar sana, Sibolga telah dikenal sebagai kota bersih sepanjang tahun. Anda tidak bisa menciptakan citra seperti itu dengan mudah. Sibolga berada di satu tempat yang memikat. Selain memancarkan kerukunan dan kedamaian, kota ini memancarkan kebersihan.

Jika saya orang asing, atau katakanlah seseorang yang tinggal di tempat jauh di seberang lautan, tidak pernah ke Sibolga tetapi mendengar betapa bersihnya kota itu dan betapa rukunnya warganya, bagaimanapun, imajinasi saya akan membayangkan sebuah kota impian, sebuah kota yang romantis. Tetapi karena kita tinggal di kota ini setiap hari, kita kurang bisa menghayati itu, terlebih jika kita misalnya adalah karakter-karakter yang pencibir. Mungkin sebagian orang di kota ini sudah terlalu terbiasa dengan Adipura sehingga menganggap itu bukan suatu hal yang berharga. Bukan Adipura-nya, tetapi kebersihannya, itu sangat berharga, sangat membantu kita sekalian berdiri sebagai orang-orang hidup tentram di kota ini.

Di dalam suatu episode hidup saya, saya tinggal di suatu lingkungan padat penduduk di luar kota Sibolga. Pemerintah daerah setempat kurang berminat mengurusi sampah, melainkan menghabiskan energi untuk mengurusi intrik-intrik politik dan konsentrasi-konsentrasi elitis lainnya. Tidak ada tempat sampah umum. Rumah saya terdapat di belakang rumah-rumah orang, kiri kanan dan di belakang juga berderet rumah-rumah penduduk yang sangat padat. Nyaris tidak ada rumah yang memiliki pekarangan. Kalaupun ada, hanya cukup untuk memajang jemuran. Padat. Sesak. Anda tahu, setiap hari masing-masing rumah tangga selalu menghasilkan sampah, demikian pula kami semua di lingkungan itu. Orang makan beberapa saja buah durian, akan menghasilkan sampah yang cukup banyak, begitu pula bungkus-bungkus makanan, plastik-plastik, terlebih lagi sampah dapur yang cepat menimbulkan bau. Sering terjadi pertengkaran antar tetangga, acap kali awal mulanya adalah sampah. Ketiadaan tempat sampah membuat banyak orang menjadi curang, diam-diam membuang sampahnya ke pekarangan tetangga. Sudah pasti hal itu akan menimbulkan sungut-sungut di dalam rumah itu. Sekali dua kali mungkin belum meledak, tetapi ketika meledak, terjadilah pertengkaran. Pemicunya mungkin bukan sampah, mungkin saja pertengkaran antar anak, tetapi awal mula dari rasa dongkol itu tetap saja sampah. Ketika seekor tikus berhasil dibunuh, lalu dilemparkan ke rerumputan di dekat rumah anda, dua hari kemudian anda dan seisi rumah akan muntah-muntah oleh bau bangkainya. Anda akan mencari-cari sumbernya dan menemukan bagkai tikus itu disana. Anda mulai mencurigai semua tetangga, dan satu dua tetangga akan menjadi musuh anda tidak lama setelah itu.

Di sekitar lingkungan kami, ada satu pekarangan kosong. Segera saja pekarangan kosong ini menjadi tempat sampah dari semua orang. Segala macam barang dibuang kesitu, mulai sampah plastik dan kertas, barang-barang rusak, sampai yang mengeluarkan bau busuk seperti perut ikan atau bangkai tikus. Sudah pasti pemilik pekarangan itu makan hati oleh semua itu. Siapa yang suka tanahnya dijadikan pembuangan sampah? Apakah anda suka? Tentu saja dia juga tidak. Tetapi karena cukup penyabar, dia membakar sendiri sampah-sampah itu. Tetapi suatu hari ia kehilangan sabar. Satu keluarga telah membuang sekantongan besar ikan asin busuk ke tempat itu. Setahu saya, ikan asin busuk penuh ulat menjijikkan adalah sampah rumah tangga terbau yang pernah saya kenal. Aroma busuknya menyengat dengan radius seratusan meter, membuat semua orang di lingkungan kami mual-mual. Tak tahan lagi, pemilik pekarangan ini mengembalikan sampah itu ke pemiliknya, menaruhnya di depan pintu mereka. Pemiliknya kembali membuang ke tempat lain, dekat-dekat rumahnya, tetapi seorang tetangganya yang tak kuasa menahan muntah kahirnya melabrak pemilik sampah itu. Tak terima diserang dengan kata-kata yang sangat kasar seperti itu, si nyonya rumah balas memaki. Makian si nyonya rumah kedengaran kemana-mana, memancing tetangga-tetanga yang selama ini sudah saling menyimpan gusar, lalu di lingkungan itu, terjadilah maki-makian antar nyonya, sangat menakutkan. Peristiwa-peristiwa seperti itu kerap terjadi. Terbentuklah kami semua menjadi tetangga-tetangga yang saling mengata-ngatai, saling menyerang, saling menuduh, parbada dalam istilah Sibolga, penuh dengan pertengkaran yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Kami terjebak menjadi penduduk yang egois dan mencari selamat sendiri.

Memang beberapa orang mencoba tidak curang. Mereka membakar sampah mereka di pekarangan sempit rumahnya. Tetapi asapnya tentu saja tidak dapat diatur. Asap-asap itu masuk ke setiap rumah sekitar, membuat internal masing-masing rumah menjadi terganggu. Ini juga tiba pada waktunya akan menimbulkan pertengkaran di lingkungan kami.

Di periode lain, saya sempat juga tinggal di satu kota besar, yang juga padat penduduknya, tetapi di perumahan yang cukup sejahtera. Sayangnya, pemerintahan kota setempat lagi-lagi tidak terlalu berminat mengurusi sampah. Meski pemda membangun bak-bak sampah yang ditaruh di depan pagar penduduk, dengan cepat bak-bak sampah itu penuh dan meluber. Pemilik rumah yang yang berada paling dekat ke bak sampah itu tentu akan menjadi sangat terganggu, sebab orang tidak saja membuang sampah plastik, tetapi juga perut ikan bahkan bangkai kucing. Tak lama kemudian, mereka menjadi keluarga yang judes, yang kerap memarahi pembantu-pembantu atau anak-anak orang lain yang membuang sampah kesitu. Ketika anak anda dimarah-marahi mereka, dengan kata-kata semisal: “Dasar kamu tidak diajari bapakmu!”, segera rasa suka anda akan terbang lenyap terhadap orang itu. Demikianlah perumahan itu juga terseret ke dalam suasana yang saling menggerutu, saling menyimpan dongkol terhadap satu sama lain. Tidak damai, tidak ada suasana persahabatan. Semua bersumber dari satu soal: sampah.

Pekarangan rumah kami berbatasan tembok setinggi dua meter dengan rumah sebelah. Tetapi sebatang pohon mangga besar rimbun tumbuh di pekarangan mereka, persis dekat tembok perbatasan. Praktis setengah rerimbunan pohon itu masuk ke pekarangan kami. Anda tahu, pohon seperti itu memproduksi sampah daun kering yang sangat banyak setiap hari. Ketiadaan fasilitas tempat sampah telah membuat kami terlibat perang dingin dengan mereka.

Tidak akan ada kerukunan ketika anda membuang sampahmu dekat ke rumah orang lain, mengendap disitu lebih dari satu hari, tanpa seorang pun yang mengurusinya. Demikianlah sampah, meskipun bukan suatu komoditas politik yang menarik, nyatanya adalah sebuah persoalan yang jauh lebih nyata daripada politik apapun. Jika kita tertarik melakukan survei ke kawasan-kawasan padat penduduk yang kerap terjadi pertengkaran antar tetangga, saya percaya persoalan sampah adalah salah satu sumber ketidakharmonisan terbesar di tempat itu.

Tetapi ketika kita, yang memiliki pengalaman buruk seperti itu masuk ke kota Sibolga, dimana kita menemukan penduduknya sangat padat bahkan nyaris tanpa pekarangan tetapi damai tenteram, sadarlah kita betapa layaknya orang-orang di balik kebersihan kota ini menerima penghargaan setinggi-setingginya.

Sadarilah, kebersihan Sibolga telah menghindarkan kota sempit sesak ini dari ribuan pertengkaran antar rumah tangga. Pagi-pagi benar, kita telah menyaksikan Laskar Kuning menyapu jalanan, gang-gang, sudut-sudut kota. Truk-truk sampah datang silih berganti sepanjang hari, bahkan untuk lingkungan-lingkungan gang sempit tetap saja ada gerobak pengangkut. Dari banyak kota di Indonesia yang pernah saya jalani selama perantauan, baru di kota ini saya menyaksikan ketersediaan tong sampah yang sangat banyak bertebaran di trotoar jalanan. Tong-tong itu tidak pula pernah diijinkan meluber, sebab lebih dari dua kali sehari isinya selalu dikuras oleh petugas-petugas yang tidak kenal lelah.

Betapa besarnya jasa Pasukan Kuning bagi masyarakat kota ini. Anda tidak dapat menghayatinya jika anda tidak pernah tinggal di kota yang jorok. Pergilah ke Jakarta, Bekasi, Medan, Semarang, dan lain-lain dan temukan sungai-sungainya yang jorok penuh sampah, bandingkan dengan sungai-sungai Sibolga. Pemimpin di kota ini telah menjamin rumah kita tetap rumah yang cenderung bebas dari percekcokan dengan tetangga karena sampah. Bakar sampah adalah satu pemandangan umum dimana-mana di Nusantara yang luas ini, tetapi ketika anda melihat Sibolga dengan teliti, anda akan heran sebab nyaris tak pernah penduduk kota ini harus repot-repot membakar sampahnya sendiri. Telah bertahun-tahun budaya bakar sampah hilang lenyap dari kota ini, dan itu patut dicatatkan dalam sebuah museum rekor. Pengurus kota ini dan Pasukan Kuningnya membuat kita masih dapat berkumpul di warung kopi dengan bersahabat dan bergelak tawa khas Sibolga yang mengakak. Meski banyak kawasan padat penduduk disini, tetapi wajah-wajah penduduknya masih tergolong ramah, mudah senyum, dan saling bertegur sapa dengan tetangga.

Diberkatilah Sibolga dengan kerukunannya yang terkenal itu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X